Khalid ibn Walid RA; The Brief Story

Kalau dulu ditanya kenapa suka dengan sosok beliau RA, karena beliau Panglima yang hebat, gelar Pedang Allah bikin kuping gw terpesona. 

Gw merasa kayak Allah SWT menyimpan Khalid Ibn Walid RA untuk umat Islam. Memberikan posisi istimewa untuk dikenang dan menjadi pelajaran bagi tiap Muslimin. Tapi sayangnya dulu belum banyak kisah sirah yang bisa dibaca tentang beliau. Mungkin hanya kutipan sedikit disana sini.

Beliau termasuk 1 dari 3 orang Muhajirin terakhir sebelum fase penaklukan kota Mekkah. Bersama Amr Ibn Al-As dan Utsman Ibn Thalah, mereka menghadap Rasulullah SAW untuk bersyahadat. 

Tentu, seperti banyak dijelaskan dalam Sirah, bahwa posisi Khalid RA sebagai sahabat tidak setinggi Abu Bakr RA atau Abdullah Ibn Suhayl, tapi Allah tetap menginginkan Khalid RA berada dalam barisan mukmin hingga melembutkan hatinya untuk menerima Islam.

Satu tahun setelah perjanjian Hudaybiyyah, umat Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW melaksanakan umrah dengan tenang dan aman. Menurut kisah Sirahnya, Rasulullah SAW melalui abangnya Khalid, Walid Ibn Walid RA, mencari dimana Khalid ketika mereka sedang umrah? 

Nabi Muhammad SAW bertanya-tanya, kenapa hingga saat ini, ditahun 7 Hijriyah, Khalid belum juga berIslam? 

Pria dengan kekuatan fisik dan intelegensi tinggi ini tidak mungkin sanggup menafikan cahaya Islam. 

“A man like Khalid, can’t keep himself away from Islam for long”.

Dan Rasulullah SAW benar. Jauh didalam lubuk hati Khalid, beliau menginginkan Islam. Dia terlalu pintar untuk menjadi penyembah berhala yang hati nuraninya tahu bahwa itu sebuah kebohongan. 

Kegundahan hatinya setelah menerima surat dari Walid kakaknya disampaikan ke Ikrimah Ibn Abu Jahl, keponakan rasa sepupu, karena usia mereka yang hampir sama. 

Ikrimah kaget dan marah, hingga mengumpulkan para petinggi Quraysh dan menyambangi kediaman Khalid. 

Abu Sufyan yang kala itu menjabat sebagai kepala suku, amat marah dengan keinginan Khalid. Beliau habis memukuli Khalid dan para petinggi lain pun sampai harus menarik keluar pedang mereka untuk membunuh Khalid.

I can’t lose you! Kata Abu Sufyan. 

Beliau lebih baik melihat Khalid RA mati ketimbang masuk Islam. Tapi Khalid yang kuat tidak membalas satu pukulan pun, dan Ikrimah yang awalnya mengadu untuk menahan Khalid dari Islam berbalik membela “apa kalian akan membunuh Khalid karena dia mau berpindah agama?”.

Setelah perdebatan dan pemukulan ini selesai, Khalid RA akhir pergi ke Madinah ditengah malam buta. 

Diperjalanan itu dia berjumpa dengan Amr dan Utsman ibn Thalhah RA. 

Tidak ada seorang pun yang lebih bahagia dan excited melebihi Rasulullah SAW. Jauh sebelum Khalid melangkahkan kaki ke Madinah, Allah sudah memberikan petunjuk kepada Nabi SAW tentang kedatangan Khalid RA. Seluruh orang di Madinah, khususnya kaum Muhajirin amat bahagia mendengar berita ini. 

Perbincangan antara Rasulullah SAW dan Khalid RA ketika mereka pertama bertemu sungguh syahdu.  Khalid RA meminta maaf perihal kejadian di perang Uhud dulu dan bagaimana Khalid dengan lembut hati memohon kepada Rasulullah SAW agar Allah Ta’ala memaafkan kesalahan-kesalahannya. 

Tanpa menunggu waktu lama, Khalid RA yang masih seperti bayi yang baru lahir diperintahkan Nabi SAW untuk berperang. Khalid bukannya orang yang pandai menghafal Al Quran, juga bukan orang yang memiliki ilmu fiqh, semua masih baru untuk beliau. 

Tapi Rasulullah SAW tahu bahwa Khalid RA memiliki jiwa ksatria dan ahli perang, maka tempat beliau adalah dimedan pertempuran. Naluri Khalid yang tinggi dan kepintarannya membuat strategi tidak diragukan. 

Tapi diperang pertamanya beliau merupakan prajurit biasa dibawah kepemimpinan Zaid, lalu Ja’far dan Abdullah Ibn Rawahah RA. Tapi ketiga panglima ini wafat semua dimedan perang. Dan panji perang pun diserahkan, tanpa banyak omong, ke tangan Khalid ibn Walid RA.

Tentu beliau menolak keras. Hanya saja, para sahabat lainnya sadar bahwa tidak ada orang yang lebih paham tentang perang dikancah itu selain Khalid ibn Walid RA. 

Pada perang pertamanya inilah, the battle of Mu’tah,  dia mendapatkan gelar Shaifullah, pedang Allah. Atas kemampuannya membawa pulang pasukan yang hampir mati massal di medan perang.

Lalu dia juga mendapat kehormatan menjadi panglima memimpin pasukan pada penaklukan kota Mekkah dan mengemban perintah Rasulullah SAW untuk menghancurkan patung Al Uzza (salah satu Berhala paling ON dimasanya).

Khalid RA bukan berarti manusia suci, beliau pun bikin kesalahan-kesalahan. Ada pelanggaran fatal yang beliau perbuat, bahkan hingga membuat Rasulullah mengadahkan tangannya ke atas “Ya Allah, aku berlepas tangan dari apa yang Khalid perbuat”. Tapi kesalahan ini diperbuat karena ilmu dan pengalamannya dalam berislam masih kurang. 

Di zaman kekhalifahan Abu Bakr RA pun beliau ada buat kesilapan, salah satunya dengan membunuh Malik Ibn Nuwayrah.

Tapi dengan kekurangan Khalid RA ini pun Abu Bakr RA tetap sangat menyukai kerja Khalid, walau ilmu agama Khalid tidak sedalam Abdullah ibn Massoud, dan ada kesalahan-kesalahan yang beliau perbuat banyak membuat sahabat memicingkan matanya, tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi Khalid RA dimedan perang memang tidak tertandingi oleh sahabat manapun.

Dibawah kepemimpinan Abu Bakr RA, Khalid mampu memberantas pemberontakan dan memulai ekspedisi perluasan Negara Islam. ‘Umar yang saat itu kesal dengan keputusan Abu Bakr RA yang selalu mempercayai tugas militer ke Khalid akhirnya menahan diri untuk menerima.

Karakter Khalid yang keras, cocok dengan karakter Abu Bakr RA yang lembut. Mereka saling mengisi. Dengan izin Allah, kemenangan terus menerus diraih Khalid.

Hingga akhirnya di perang Yarmuk, atas perintah Abu Bakr RA, beliau harus berada dibawah komando Abu Ubaiydah RA. Tapi beliau tidak kecil hati dan bahkan kemenangan tetap beliau raih dengan gagah berani. Menjadikan Khalid Ibn Walid RA panglima terbesar setelah Rasulullah SAW.

Hingga akhirnya ‘Umar menjadi khalifah. Setelah pemikiran panjang dan bisikan rakyat yang mulai berkecenderungan terhadap Khalid sebagai The Lucky Charm akhirnya membuat ‘Umar harus menurunkan pangkat Khalid hingga menjadi prajurit biasa.

Khalid sadar, beliau keras dan ‘Umar apalagi. 

Perbedaan pandangan keduanya akan membuat mereka bertengkar. ‘Umar dan Khalid adalah keponakan dan paman. Ibu ‘Umar dan Ayah Khalid RA adalah bersaudara. Hubungan darah mereka kental, fisik mereka pun tidak jauh berbeda. Diceritakan di dalam Sirah bahwa dari kejauhan orang tidak bisa membedakan mana ‘Umar dan mana Khalid. 

Dan bisa dibilang, dulu di zaman jahiliyah, Khalid, ‘Umar, Amr, dan Ikrimah adalah satu genk. The band of brothers dari klub elite-nya suku Quraysh. Jadi mereka satu sama lain sudah saling kenal dan main bareng.

Dan Khalid pun harus menerima bahwa sekarang kepemimpinan ada ditangan ‘Umar dan keputusan ‘Umar tidak akan membuat Khalid mundur dari militer. 

Ini adalah bentuk keimanan Khalid. Dengan posisi dan jabatan apapun, yang dia inginkan adalah berjuang untuk agama Allah. 

Abu Ubaidah RA yang akhirnya mengambil alih posisi Khalid tetap mempercayakan komando dan taktik perang sang Panglima. Abu Ubaidah RA sangat kagum dengan Khalid RA, dan tanpa ragu menganggap Khalid seperti adiknya sendiri. Berdua bersama Abu Ubaidah, Khalid berperang membuka jalan bagi terbentuknya Negara Islam. 

Dan yang paling emosional adalah ketika akhirnya negeri Suriah takluk ditangannya. Dikejauhan dia menatap dan berkontemplasi “Dulu ketika Muhammad SAW berujar didepan Ka’bah bahwa Islam akan menduduki Persia dan Syria, juga mengalahkan Romawi, semua orang tertawa. Tetapi hari ini Allah mengizinkan aku untuk berdiri disini menyaksikan kebenaran itu dan menjadi bagian darinya”

Ekspansi Islam besar-besaran terus berlangsung hingga kepenghujung Anatolia. Khalid yang saat itu berada di Homs, Syria dalam keadaan sakit beliau menangis. Menangis karena keinginan kuatnya untuk mati syahid dimedan perang. Seperti para sahabat-sahabatnya yang lain. 

Ketika seorang temannya datang berkunjung dan melihat Khalid diatas ranjang kematiannya, Khalid berkata sambil menarik pakaiannya keatas 

“I’ve fought in so many battles seeking martyrdom that there is no spot in my body left without a scar or a wound made by a spear or sword. And yet here I am, dying on my bed like an old camel. May the eyes of the cowards never rest.”

Tapi teman beliau bilang “You must understand, O Khalid, that when the Messenger of Allah (Muhammad), on whom be the blessings of Allah and peace, named you Sword of Allah, he predetermined that you would not fall in battle. If you had been killed by an unbeliever it would have meant that Allah’s sword had been broken by an enemy of Allah; and that could never be.”

Dan gw setuju banget dengan ini. The wisdom behind Khalid’s death is simply beautiful. Allah Ta’ala preserved his special position. 

Terlepas dari kesalahan-kesalahan yang beliau perbuat, terlalu banyak pencapaian dan pembelajaran yang Khalid RA berikan untuk umat Islam.

Dan walaupun ‘Umar dan Khalid sering bersitegang, bahkan ‘Umar menarik mundur dan mengakhiri karir militer Khalid, tapi keduanya tetap profesional dan tidak ada rasa benci.

Khalid tetap menerima keputusan ‘Umar walau dianggap sebuah keputusan yang tidak adil. Tapi disini gw belajar, ‘Umar sedang menyelamatkan Khalid dari fitnah jabatan dan juga menyelamatkan akidah umat Muslim. 

Keberadaan Khalid didalam militer dan dengan kemenangan tanpa batas yang diraihnya bikin Iman umat muslim goyang. Dan ‘Umar ingin menyelamatkan akidah orang banyak dan mengorbankan satu orang.

This is what a genius leader will do!

Setiap umat muslim harus tahu bahwa kemenangan itu datangnya dari Allah dan bukan dari Khalid Ibn Walid. 

Ada kisah ketika pencopotan jabatan itu terjadi, ‘Umar RA mengirim Bilal RA untuk memberikan surat perintah pemutusan jabatan. Kala itu, tersebar berita bahwa Khalid RA tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang. 

Bilal RA yang membuka surat itu kaget dan diam 1000 bahasa. Dia tidak percaya apa yang dia baca didalam titah Khalifah. “Bagaimana aku bisa melakukan ini ya amirul mukminin?

Didepan ribuan pasukan Khalid Ibn Walid, Bilal membacakan surat dari ‘Umar yang dia bawa jauh dari Madinah.

“Khalid, taruhlah pipimu diatas tanah dan aku harus meletakkan kakiku diatasnya”.

“Jika itu perintah Khalifah, maka lakukan lah wahai Bilal.” Jawab Khalid dengan tenang.

First thing first, bayangin perasaan prajurit-prajurit dari bani Makhzum ketika melihat kejadian itu. Just feel and imagine it!

Bilal RA, mantan hamba sahaya berkulit hitam legam menaruh kakinya diatas pipi panglima perang terhebat dizamannya, anak seorang pimpinan tertinggi suku Quraysh.

“pangeran” Arab you can say, Panglima perang dengan sederatan prestasi dan harus menahan diri ketika Bilal RA, mantan budak dari Abbysinia yang semua orang tahu posisinya di zaman jahiliyah lebih rendah dari seekor nyamuk. 

Tapi ini perintah atasan, ‘Umar sebagai Khalifa ingin memperlihatkan bahwa Khalid adalah manusia biasa yang punya derajat yang sama dengan Bilal. 

Buat orang yang benci ‘Umar tentu ini semacam humiliation. Tapi ini dia pelajaran yang bisa kita ambil dalam melihat keikhlasan dan ketaatan Khalid Ibn Walid RA. 

Dan ini adalah salah satu kejadian yang menghangatkan jiwa dan tentunya ini membuat nama Khalid RA harum sepanjang masa. 

Isi surat itu mempertanyakan isu yang beredar bahwa Khalid berbuat tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang.

Tapi Khalid RA dengan tegas mengatakan TIDAK! 

Lalu selanjutnya perintah untuk pencopotan jabatannya terjadi. Dan Khalid kembali ke Madinah dengan tangan terbelenggu turbannya. 

Ketika dua sosok ini bertemu, ibarat dua batu karang beradu, tanpa rasa takut sedikit pun mereka bertatapan. ‘Umar menyampaikan kepada sang Panglima

“ You have done; And no man has done as you have done. But it is not people who do; It is Allah who does.”

Khalid mengungkapkan ketidakpuasan atas sikap dan keputusan ‘Umar. “I protest to the Muslims against what you have done. By Allah, you have been unjust to me, O Umar!”

And Khalid left Madinah forever, to his final resting place in Homs.

Disana Khalid RA mendengar berita penaklukan yang dilakukan Saad Ibn Abi Waqas di Persia dan Amr Ibn Al As di Mesir, dan seperti Muslim yang lain dia begitu bahagia tapi disisi lain dia amat sedih karena tidak menjadi bagian di tiap peperangan kaum muslim lagi. 

Dan ketika Khalid RA Wafat, ‘Umar RA adalah orang yang paling bersedih. Sedih karena kehilangan teman masa kecilnya dan sedih atas kepergian sang Panglima yang menjadi pembuka pintu gerbang syiar Islam ke dunia.

The noble warrior, the sword of Allah, Khalid Ibn Walid passed away with the legacy that every muslim really proud of. 

Wassalam,

Na’

NB: kisah ini gw rangkum dari berbagai sumber bacaan dan kajian online YouTube Mufti Menk, Sheikh Yasir Qadhi, Ust. Khalid Basalamah dan Ust. Firanda. Mohon maaf bila ada kesalahan atau kekurangan dalam penulisan.