Cerita Jajan (Halal) Rantang Mini di Tokyo

Jepang, aduh….kalau nulis tentang negara ini kayaknya gak akan pernah bosen kali ya. Negara ini menurut gw satu-satunya negara yang mandiri yang gak butuh siapa-siapa hahahaha. Seriusan deh, bisa mencukupi kebutuhan pangan sendiri, teknologi bikin sendiri, dan negaranya cantik gak karuan, plus orang-orangnya yang unik dan ramah.

Setelah kunjungan gw di tahun 2016 lalu, impresi tentang negara ini melekat dalam sekali diingatan. Niatnya dulu pengen bawa mertua gw kesini untuk melihat canggihnya Tokyo, cantiknya Kyoto dan hebohnya Osaka. Alhamdullilah, tahun ini, setelah nabung keras, gw bisa bawa Ibu mertua ke Jepang. Ke negara impian beliau.

Nah, tapi…sesuai pengalaman 3 tahun lalu itu, kan cari makan di Jepang itu PR banget. Jadi walaupun mengandalkan app, Halal Gourmet Japan, tetep aja pas nyari makan rempongnya gak karuan. Karena makanan Halal pada saat itu terpusat hanya dibeberapa titik kota aja.

Plus, kalau makan gak bisa langsung walk-in seperti layaknya tempat makan pada umumnya. Disana kadang kita harus reservasi 1 sampai 3 hari sebelumnya, sangking tinggi peminat makanan Jepang halal ini.

Berbekal pengalaman tersebut, di perjalanan kali ini gw akhirnya melakukan deep research disegala aspek. Mulai dari tempat menginap, tempat makan, tempat yang akan dikunjungi, dll. Pokoknya mencoba supaya semuanya efektif, efisien dan menyenangkan segala pihak.

Oh yes, that’s me you’re talking about. A true pleaser! hahahahaha

Jadi itinerary harian gw itu disusun dan diatur dengan sedemikian rupa agar ditiap-tiap jam makan itu gw sekeluarga bisa mendapatkan makanan Halal atau setidaknya aman untuk Muslim.

Yang gw perhitungkan bukan harga melainkan ulasan pelanggan dan jarak lokasinya. Sekedar informasi, makanan Halal di Jepang masih relatif mahal ketimbang makanan lokal non Halal. Jadi skala prioritas pertama ketika mau wisata kuliner di Jepang adalah siapkan DANA yang cukup!

Ada dua lokasi di Tokyo yang menurut gw sangat bagus dari segi mencari makan (halal dan aman) dan akses transportasinya yaitu Shinjuku Area dan Asakusa.

Jadi kalau mau cari penginapan yang mudah udah cari makan makanan Halal atau setidaknya yang aman untuk Muslim, bisa mempertimbangkan dua lokasi ini.

Oke, now let us get to the point! What is Rantang Mini’s recommendation in terms of Halal food in Tokyo?

Rantang Mini makan dan jajan dibanyak tempat, pun…tak lupa nyenyes kepada para pelayan dan penjual karena takut salah paham ya kan? Karena tidak semua kedai makanan itu bersertifikasi Halal loh. Kebanyakan bagi mereka yang Non Muslim, pemahaman tentang Halal Food, makanan Halal ini adalah tidak menggunakan alkohol dan babi.

Duh duh duh….paniang palo den! Disini tugas kita untuk cek ulang dan sekedar memastikan bahan baku makanan atau cara mereka memasak dll.

InsyaaAllah untuk Kyoto dan Osaka gw pisahin di-post berikutnya ya.

Halal Sushiken Asakusa
Halal Sushiken Asakusa

Pergi ketempat ini harus perhatikan banget jam bukanya. Karena pertama kali kesini, mereka ternyata habis jam makan siang tutup dan baru buka lagi menjelang Maghrib. Tempatnya bersih, dekat dengan metro, juga ada tempat sholatnya. Ini Halal Certified, tapi mereka masih menjual alkohol. Di Jepang kebanyakan Halal Certified Restaurant tetap jual minuman keras.

Selain ini ada juga A Happy Pancake di Shibuya, typical Japanese pancake, thick and yet extremely soft. Tingkat kemanisan orang Jepang cocok banget sama gw. Enak dan gak berlebihan. Jadi rasa makanannya tuh “dapet” banget.

Yang kedua, cobain Morethan Bakery di Shinjuku deh. Lokasinya ada didalam Knot Hotel Shinjuku. Tell me how do you like it?

Dari semua yang gw makan ini, ada dua yang menurut gw outstanding banget. 1. Chicken Teriyaki di Sekai Cafe Asakusa. Ini highly recommended karena tampilan makanan secantik rasanya. Ketika pertama kali masuk sini, gw pikir kafe biasa aja, tentunya dengan dekorasi yang menarik tapi gak kepikiran kalau makanannya akan seindah itu. Harganya relatif, tapi tampilannya bintang 5 banget. Yang bikin makin laff banget adalah adanya tempat sholat.

Nah, no.2 adalah Zaku Zaku. Kue sus garing, seriously….croquant! dengan isi krim susu segar. Ya Allah nikmatnya susu Hokkaido tuh yaa…ampuuuun! Gw waktu itu nyobain rasa yang original dan seasonal flavor, strawberry, dan dua-duanya ueeenak banget, krimnya lembut dan manisnya pas. Gigitan pertamanya itu loh, kriuk….! Makan ini tuh rebutan sama anak-anak gw, dan mau beli lagi males karena ngantrinya ku tak tahan! hahahaha.

Kalau rekomendasi kalian lainnya apa?

Salam!

Cerita Jajan (Halal) Rantang Mini di Kyoto

Waktu di Tokyo lalu sebenernya jajannya hampir puas tapi belum sempurna karena gak sempet nyobain Coco Ichibanya Shinjuku (Nasi Kari Jepang-Halal). Selebihnya seneng banget karena akhirnya setelah sekian lama bisa merasakan Kobe Beef Halal di Sumiyaki. Harganya hampir 2jt per porsi tapi rasanya maaaaaaan…..gilak lumernya! Terlalu enak, bahkan di grilled polos tanpa saus atau garam aja enak banget. Itu makanan termahal yang pernah gw makan dan gak menyesal. I wish I had more money to enjoy that piece of tender meat.

Nah, perjalanan gw lanjut dari Tokyo ke Kyoto. Naik Shinkansen Nozomi N700 sekitar 2 jam lebih dan cuaca saat itu drop banget, dari Tokyo yang panas ke Kyoto yang so chill. Padahal udah mau di Minggu akhir bulan April.

Di liburan kali ini gw memilih untuk tinggal di Arashiyama, alasannya sederhana: Ibu Mertua gw suka dengan alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari pusat kota Kyoto dan Alhamdullilah, akses kesana pun mudah banget. Setelah dijalani akhirnya gw berpikir bahwa itu adalah keputusan yang terbaik.

Arashiyama benar-benar menjadi tempat relaksasi dan ber-tafakur alam. Dikelilingin gunung dan sungai, juga tidak ada bangunan-bangunan tinggi bikin tinggal disana nyaman banget. Memanjakan mata kita dan suara gemericik airnya itu loh…MasyaAllah.

Yang paling bikin seneng lagi adalah disana ada Halal Certified Japanese Restaurant: YOSHIYA yang menyajikan makanan bukan cuma enak dilidah tapi sedap dipandang mata. Bahkan rasa sesal karena gak sempat nyicip Coco Ichibanya jadi hilang karena disana nyicipin Nasi Kari Jepang yang ueeenak.

Terus di Arashiyama ini lumayan banyak opsi untuk makanan Halal, setidaknya aman untuk Muslim. Mungkin karena banyaknya turis Muslim yang datang ke tempat ini. Nah, foto snack diatas ini adalah gorengan ala Jepang. Rasanya enaaaak dan lembut, ada rasa manisnya yang konon dari Seafood. Walaupun ada logo Halal-nya, gw tetep tanya apakah ini benar-benar aman. Setelah ngobrol dan nunjukin “lembaran sakti” gw akhirnya yakin, InsyaaAllah ini aman.

Jadi selama liburan di Jepang gw megang 2 lembar kertas berisikan tulisan dalam bahasa Jepang untuk ditunjukkan setiap ingin pesan makanan dan minuman.

Salah satu yang gw print dan bawa selama liburan di Jepang
Ini yang kedua

Sangking bagusnya sampai resepsionis hotel minta fotocopy, karena ini memudahkan mereka juga untuk berkomunikasi dengan tamu-tamu hotel. Ini bukan hanya cocok untuk yang Muslim, tapi mereka yang vegan atau vegetarian juga bisa loh.

Rasanya di Kyoto ini gw lebih banyak jajan dan makan diluar. Selain makan di Arashiyama, tentu gw dengan puas jajan di pusat kota Kyoto donk. Alhamdullilah akses yang mudah, bikin gw mudah bolak balik kesana.

Yang paling dinanti-nanti adalah mampir ke Ramen Naritaya. Inget banget dulu, 3 tahun lalu pas kesini, antriannya SubhanAllah, mana dingin, bawa anak kecil pula. Tapi demi semangkuk Ramen Halal jadi rela nunggu. Kenapa sampai harus mengantri? Karena tempatnya kecil banget, kayak warteg. Paling menampung 15-20 orang aja.

Nah kejutannya adalah mereka buka restaurant kedua, restaurant yakiniku. Tentu gw senang donk, jadi makanan Halalnya lebih banyak dan variatif. Wah untuk yang ini mesti reservasi (most of the time), karena rame banget. Jadi kalau datang siang, biasanya dapet sore. Jadi akan lebih efektif kalau kamu telpon untuk reservasi dulu atau pas udah nyampe di daerah Gion, langsung kesini dulu untuk isi daftar reservasi. Mereka cuma punya beberapa meja aja. Entah sekarang, mungkin udah lebih besar 🙂

Diperjalanan ini, gw pengen banget nyoba sebanyak mungkin Japanese Pancake dan Alhamdullilah pas di Kyoto bisa nyobain Pancake enak dan terkenal di antara orang lokal tapi ngga untuk turis hehehe.

Lokasinya dekat Museum Kereta Api Kyoto (Kyoto Railway Museum), tempatnya kecil, nyaman dan cantik.

Tujuan selanjutnya tentu mencoba Matcha dengan berbagai macam olahan. Alhamdullilah ini juga terpenuhi selama di Kyoto. Apalagi Kyoto memang terkenal dengan Uji Matcha-nya. Gw nyobain juga Matcha Roll Cake, Matcha Ice Cream, Matcha Mochi dan entah apalagi I lost count hehehe.

Nah, ketika 2 lembar kertas sakti gw itu ngga cukup menolong, gunakan Google Translate! Ini adalah alat yang selalu gw gunakan untuk men-scan tulisan di menu atau sekedar untuk menanyakan metode masak, bahan baku masakan dll.

Oh iya, jika makan diluar yang non Halal restaurant. Selalu usahakan bertanya. Kayak misalkan sup, bahan baku kaldunya apa? Kalau kue, tanya emulsifernya apa, ada alkoholnya atau ngga, pakai pewarna atau ngga? Whipped cream-nya segar atau dikocok pakai gelatine?

Pokoknya jangan terkecoh dan terlena dengan logo-logo Halal (kecuali yang sudah tersertifikasi) atau dengan label Vegetarian friendly karena kadang Vegan atau Vegetarian masih minum/pakai alkohol. Maka dari itu selalu diusahakan untuk bertanya. Andaikan pun silap, ngga sengaja kena sesuatu yang Haram karena keterbatasan bahasa dan ilmu, setidaknya kita sudah berusaha. Dan Allah mencintai orang-orang yang bertakwa lagi berusaha.

Wallahualam.