Cerita Jajan (Halal) Rantang Mini di Osaka

Di Japan trip gw pertama kali bulan Maret 2016, gw memulai perjalanan di kota ini, kota Osaka. Kota bisnis yang tadinya gw pikir biasa aja. Waktu itu kami tiba malam hari di Apartemen sewaan, 1 malam hilang dan hari berikutnya gw habiskan untuk ke Minoo Park (highly recommended!!!) dan ke Osaka Castle. Lalu ketika pagi tiba, saat kita ingin menjelajah pusat kota, sang pemilik apartemen menawarkan untuk bawa semua bagasi kita dengan mobilnya ke Kyoto! Ya gw gak nolak lah…tiba-tiba langsung kepikiran ketempat lain dan mengorbankan Osaka.

Saat itu gw lebih memilih untuk ke Nara, ketimbang pusat kota Osaka. Nah, makin sering liat food blogger jalan dan jajan kesana, ada rasa iiihhh nyesel juga wkwkwk. Alhamdullilah, di lawatan gw yang kedua ini akhirnya gw fokus di Osaka aja dan milih menginap di Namba; pusat kulinernya Osaka!

Gw nginep di Holiday Inn Namba. Harga relatif untuk ukuran sebuah hotel kenamaan. Dibanding Tokyo dan Kyoto, Osaka termasuk yang paling murah. Cuma bukan itu yang jadi poin utamanya, tapi LOKASI!!

Jaraknya dengan jantung kuliner lokal dan pusat perbelanjaan yang cuma selemparan batu bikin hati berbunga-bunga. Nikmat banget! Kalau malam pun rasanya makin semangat karena semua lampu billboard menyala, orang-orang nongkrong sambil makan disekitaran Tombori river walk. Kata orang Belanda nih “Gezellig!”

Pilihan gw gak salah, hari pertama langsung nyari A Happy Pancake (LAGI!) karena gw pengen yang lain nyobain. Secara orang Belanda kan pancake mania nih, jadi mereka harus nyobain variasi pancake yang berbeda dengan yang biasa mereka makan. Apalagi tempat makannya cantik banget dan dapurnya terbuka, jadi bikin dining experience kita jadi hangat.

Japanese Souffle Pancake from A Happy Pancake in Milk Tea Sauce

Dan apa yang paling terkenal dari Osaka selain giant Glico man sign?Okonomiyaki! Telur dadar isi or people says it’s a Japanese savory pancake yang diisi seafood dan sayuran, pakai saus okonomiyaki dan Japanese mayonnaise. Diatasnya ditaburi katsuobushi; semacam abon atau irisan tipis dari ikan (bonito) gitu.

Make sure to dine in at Chibo Diversity Muslim Friendly Restaurant. Rekomendasi bintang 5 mah ini. Apalagi kalau mau coba makanan khas Osaka, Okonomiyaki, udah paling bener disini deh. Yang lucunya lagi, typical Indonesian banget kali ya, disini disediain Saos Sambel ABC juga hehehe.

Lokasinya masih di satu jalan dengan Little Osaka tadi. Jarak 500m lah kira-kira. Dan Namba itu truly the heart of Osaka dan wajib banget dikunjungi buat kamu semua yang akan atau sedang berada di Osaka.

Nah selain jajan ini, setelah sekian lama makan makanan Jepang terus. Perut dan lidah gak bisa bohong donk. Tetep nyari makanan Indonesia hahahaha. Alhamdullilah ada restaurant Indonesia dekat Namba dan menjual makanan pengobat rindu tentunya.

Cafe Bintang namanya. Nyarinya mesti pake google maps atau dijamin nyasar. Lokasinya ada didalam gedung gitu, jadi harus teliti dalam melihat sign board nama-nama toko atau restaurant. Restaurantnya halal tapi masih menjual alkohol. Ini standard sih di negara-negara minoritas Muslim. Kadang bingung juga, kayak orang lokal Jepang aja ada yang mau bikin fully halal menu, kenapa yang punya orang Indonesia malah ngga bikin ya. Padahal pasarnya kan udah ada dan besar pula.

Cus ketempat berikutnya. Mumpung lagi di Osaka dan nginep dikawasan Namba, gw tiap hari jalan disekitaran situ aja, karena areanya luas banget jadi gak bisa disambangi satu-satu dalam 1-2 hari. Alhamdullilah waktu mau nyari oleh-oleh, iseng masuk ke sebuah toko. Eeeh pas dijelajah satu-satu, tiba-tiba nemu Halal Section!

Alhamdullilah senangnya gak ketulungan. Nama tokonya Little Osaka, Omiyage Market. Google yaa. Ini lokasinya di Namba juga kok, deket billboard Meiji yang besar dan mencolok hehe. Nah ada satu jajanan yang enak banget, walau bukan di Halal Section tadi, tapi InsyaaAllah bahan bakunya aman, Kyoto Sweets namanya. Pudding matcha yang lembut dan rasa matcha-nya bombastis!!! Tapi jangan ambil yang rasa lain, karena kandungan bahan bakunya yang kurang aman. Lupa persisnya apa, makanya hanya ambil yang matcha aja.

Intinya, kalau mau jajan dan makan enak, Osaka udah kota yang paling oke menurut gw. Tokyo juga oke, oke banget malah, tapi harganya gak kuku! Nah yang paling bikin gw seneng lagi adalah harga SK II di Osaka lebih murah dibanding Tokyo atau Kyoto, don’t ask me why, tapi gw nyesek banget waktu lihat harga kosmetik papan atas itu di Osaka. Soalnya udah keburu beli di Kyoto duluan huhuhuhu.

Selamat jajan!

Wassalam,

Na’

Cerita Jajan (Halal) Rantang Mini di Kyoto

Waktu di Tokyo lalu sebenernya jajannya hampir puas tapi belum sempurna karena gak sempet nyobain Coco Ichibanya Shinjuku (Nasi Kari Jepang-Halal). Selebihnya seneng banget karena akhirnya setelah sekian lama bisa merasakan Kobe Beef Halal di Sumiyaki. Harganya hampir 2jt per porsi tapi rasanya maaaaaaan…..gilak lumernya! Terlalu enak, bahkan di grilled polos tanpa saus atau garam aja enak banget. Itu makanan termahal yang pernah gw makan dan gak menyesal. I wish I had more money to enjoy that piece of tender meat.

Nah, perjalanan gw lanjut dari Tokyo ke Kyoto. Naik Shinkansen Nozomi N700 sekitar 2 jam lebih dan cuaca saat itu drop banget, dari Tokyo yang panas ke Kyoto yang so chill. Padahal udah mau di Minggu akhir bulan April.

Di liburan kali ini gw memilih untuk tinggal di Arashiyama, alasannya sederhana: Ibu Mertua gw suka dengan alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari pusat kota Kyoto dan Alhamdullilah, akses kesana pun mudah banget. Setelah dijalani akhirnya gw berpikir bahwa itu adalah keputusan yang terbaik.

Arashiyama benar-benar menjadi tempat relaksasi dan ber-tafakur alam. Dikelilingin gunung dan sungai, juga tidak ada bangunan-bangunan tinggi bikin tinggal disana nyaman banget. Memanjakan mata kita dan suara gemericik airnya itu loh…MasyaAllah.

Yang paling bikin seneng lagi adalah disana ada Halal Certified Japanese Restaurant: YOSHIYA yang menyajikan makanan bukan cuma enak dilidah tapi sedap dipandang mata. Bahkan rasa sesal karena gak sempat nyicip Coco Ichibanya jadi hilang karena disana nyicipin Nasi Kari Jepang yang ueeenak.

Terus di Arashiyama ini lumayan banyak opsi untuk makanan Halal, setidaknya aman untuk Muslim. Mungkin karena banyaknya turis Muslim yang datang ke tempat ini. Nah, foto snack diatas ini adalah gorengan ala Jepang. Rasanya enaaaak dan lembut, ada rasa manisnya yang konon dari Seafood. Walaupun ada logo Halal-nya, gw tetep tanya apakah ini benar-benar aman. Setelah ngobrol dan nunjukin “lembaran sakti” gw akhirnya yakin, InsyaaAllah ini aman.

Jadi selama liburan di Jepang gw megang 2 lembar kertas berisikan tulisan dalam bahasa Jepang untuk ditunjukkan setiap ingin pesan makanan dan minuman.

Salah satu yang gw print dan bawa selama liburan di Jepang
Ini yang kedua

Sangking bagusnya sampai resepsionis hotel minta fotocopy, karena ini memudahkan mereka juga untuk berkomunikasi dengan tamu-tamu hotel. Ini bukan hanya cocok untuk yang Muslim, tapi mereka yang vegan atau vegetarian juga bisa loh.

Rasanya di Kyoto ini gw lebih banyak jajan dan makan diluar. Selain makan di Arashiyama, tentu gw dengan puas jajan di pusat kota Kyoto donk. Alhamdullilah akses yang mudah, bikin gw mudah bolak balik kesana.

Yang paling dinanti-nanti adalah mampir ke Ramen Naritaya. Inget banget dulu, 3 tahun lalu pas kesini, antriannya SubhanAllah, mana dingin, bawa anak kecil pula. Tapi demi semangkuk Ramen Halal jadi rela nunggu. Kenapa sampai harus mengantri? Karena tempatnya kecil banget, kayak warteg. Paling menampung 15-20 orang aja.

Nah kejutannya adalah mereka buka restaurant kedua, restaurant yakiniku. Tentu gw senang donk, jadi makanan Halalnya lebih banyak dan variatif. Wah untuk yang ini mesti reservasi (most of the time), karena rame banget. Jadi kalau datang siang, biasanya dapet sore. Jadi akan lebih efektif kalau kamu telpon untuk reservasi dulu atau pas udah nyampe di daerah Gion, langsung kesini dulu untuk isi daftar reservasi. Mereka cuma punya beberapa meja aja. Entah sekarang, mungkin udah lebih besar 🙂

Diperjalanan ini, gw pengen banget nyoba sebanyak mungkin Japanese Pancake dan Alhamdullilah pas di Kyoto bisa nyobain Pancake enak dan terkenal di antara orang lokal tapi ngga untuk turis hehehe.

Lokasinya dekat Museum Kereta Api Kyoto (Kyoto Railway Museum), tempatnya kecil, nyaman dan cantik.

Tujuan selanjutnya tentu mencoba Matcha dengan berbagai macam olahan. Alhamdullilah ini juga terpenuhi selama di Kyoto. Apalagi Kyoto memang terkenal dengan Uji Matcha-nya. Gw nyobain juga Matcha Roll Cake, Matcha Ice Cream, Matcha Mochi dan entah apalagi I lost count hehehe.

Nah, ketika 2 lembar kertas sakti gw itu ngga cukup menolong, gunakan Google Translate! Ini adalah alat yang selalu gw gunakan untuk men-scan tulisan di menu atau sekedar untuk menanyakan metode masak, bahan baku masakan dll.

Oh iya, jika makan diluar yang non Halal restaurant. Selalu usahakan bertanya. Kayak misalkan sup, bahan baku kaldunya apa? Kalau kue, tanya emulsifernya apa, ada alkoholnya atau ngga, pakai pewarna atau ngga? Whipped cream-nya segar atau dikocok pakai gelatine?

Pokoknya jangan terkecoh dan terlena dengan logo-logo Halal (kecuali yang sudah tersertifikasi) atau dengan label Vegetarian friendly karena kadang Vegan atau Vegetarian masih minum/pakai alkohol. Maka dari itu selalu diusahakan untuk bertanya. Andaikan pun silap, ngga sengaja kena sesuatu yang Haram karena keterbatasan bahasa dan ilmu, setidaknya kita sudah berusaha. Dan Allah mencintai orang-orang yang bertakwa lagi berusaha.

Wallahualam.