Post Eid: Rantang Mini is back

Lontong Opor

After almost two fully months stopped from selling meal for lunch, I finally (re)opened my kitchen again last Friday. I didn’t mean to open it this Friday but some of my loyal customers simply can’t wait any longer.

They were the one who were so excited when Ramadhan ended. Means that I will open again for business.

To bring the festive Eid moment to their lunch table, I decided to make the iconic Eid meal: Lontong Sayur. Together with Opor Ayam (Chicken in coconut milk and herbs), Sambal Goreng Kentang Buncis (Spicy Fried Potato with Green Beans) and Tea Egg (Boiled Egg in Tea and Spices)

Ready to pack and go!

What do you think? Hungry already? Hehehehe.

Omar The Series; My View.

Omar The Series.
Source: Google Image

Omar Al Farouk….

Sudah lebih dari 7 hari gw menonton serial Omar, serial tentang salah seorang Sahabat yang sukses bikin gw terisak-isak menyaksikannya. 

Tepat di episode ke 5, tangis gw pecah menyaksikan Bilal RA habis dicambuk tanpa ampun. Sedikit pun tidak mengeluh, Bilal dengan lantang mampu mengucapkan “Ahadun!” 

(He is the One).

Serial ini, walau banyak ditentang umat Muslim lainnya karena berani menampilkan sosok para Sahabat, untuk gw ini semacam quick fix iman. 

Penggambaran para sahabat lebih terasa realistis ketimbang fantasi. Ini yang bikin nantinya banyak penonton banjir air mata. 

Ini yang sangat gw tunggu-tunggu. Serial Islami berkualitas Hollywood dengan pemilihan aktor , desain kostum dan setting lokasi papan atas. 

Setelah hampir 18 episode gw saksikan dengan seksama, gw bisa menyimpulkan bahwa mereka yang bermain disana sudah pada tempatnya. 

Mungkin ada beberapa yang sedikit terlewat, salah satunya seperti Umar RA yang harusnya berbadan kekar, tinggi menjulang dan berkepala plontos. Atau pula karakter Hamzah RA yang sedikit kejauhan dari deskripsinya.

Tapi ini juga bukan negatif, malah gw seneng karena pihak produser tidak berusaha 100% untuk mempersonifikasikan para Sahabat dan kaum Musyrikin di kisah tersebut. 

Karena pada dasarnya bukan fisik yang harus diutamakan, tetapi kisah dan pesan yang ingin disampaikan nantinya….dan itu ngena banget. 

Setiap sahabat yang dimainkan mampu menjalankan dan memotretkan karakter yang diperankannya. Tentu masih jauh dari kenyataan, bahkan kadang melenceng dari yang gw pikirkan (berdasarkan baca/denger Sirah), tapi essensinya dapet, setidaknya untuk penonton awam macem gw ini.

Hanya satu aktor yang paling menonjol wajahnya sehingga ketika dia muncul, tanpa harus menerka-nerka siapa dia, lisan gw langsung berujar “‘Ali?”. 

Dan ternyata benar. ‘Ali Ibn Abi Thalib.

Pemeran ‘Ali wajahnya mirip banget dengan ‘Ali yang digadang-gadangkan oleh pengikut Syiah. Raut wajahnya, janggutnya, bahkan matanya begitu identik. 

Selebihnya, sosok yang menurut gw penggambarannya bagus diserial adalah pemeran Abdullah Ibn Massoud dan Abu Bakr As Siddiq. 

Yang jadi Abu Bakr RA ini adalah aktor langganan Hollywood loh, jangan main-main hehehe. Beliau yang jadi Salahuddin Al Ayubbi di Kingdom of Heaven, dan salah seorang PM Fir’aun di film Exodus

Tentu ada harapan dalam hati bahwa serial ini bisa memfokuskan dibeberapa tokoh, khususnya tokoh-tokoh yang nantinya berperan besar membantu Umar RA di periode kekhalifahan beliau. 

Contohnya: gw berharap sosok Khalid ibn Walid lebih diperdetail proses masuk Islamnya. Bayangin beliau ketika dipukulin Abu Sufyan yang marah ketika mendengar niat Khalid RA untuk berIslam. Untuk sebuah serial TV, emosi karakter-karakter ini bisa memperkaya alur cerita, juga bisa bikin perasaan penonton haru. 

Betul kata sahabat gw, serial ini salah satu iman booster. Setidaknya setelah episode 5 keatas gw gak berhenti terharu, apalagi ketika Umar RA mencium kening Abu Bakr RA sebagai tanda hormat dan sayang, emosinya dapet banget…ikutan merindiiiiiiing dibuatnya. Nonton serial ini juga bikin gw gak berhenti bersyukur dan terus merindu sosok yang dicintai kaum muslimin. Kebayang dengan segala daya dan upaya untuk menegakkan agama Allah diatas muka bumi ini. Pengorbanannya gila-gilaan, bikin lisan gak berhenti “pantas dia masuk Surga atau rasain lu Abu Jahl, emang tempat lu di kerak Jahanam.”

Di serial ini, walau tanpa perlu adanya aktor, suara, maupun sekedar cahaya untuk menandakan adanya beliau SAW, kisah diserial ini udah cukup banget bikin mata basah akibat rindu dan rasa sayang yang menggebu. Apalagi ketika tiap mata Sahabat menatap kamera sambil bilang “Ya Rasulullah….”.

Nonton serial ini bakal bikin gw, dan mudah-mudahan kita semua mudah untuk bermuhasabah. Coba dihayati apa yang beliau SAW harus jalanin….pait man!

Dihujat,

Diboikot,

Dibikin kelaparan satu Bani,

Terusir dari kampung halaman,

Harus berperang dengan saudara sendiri,

Bahkan kehilangan banyak orang yang beliau SAW cintai untuk agama ini.

Apa yang beliau lewati untuk menegakkan agama ini begitu mencabik hati. Tanpa mengeluh beliau melanjutkan tugasnya dan menyampaikan risalah.

Dan gw juga membayangkan gimana hati para sahabat yang juga harus melewati ini.

Seperti Abu Hudaifah yang mesti melihat Ayah, Paman dan Saudara laki-lakinya mati terbunuh didepan matanya. Dengan hati sekuat baja, mata basah berlumuran air mata, tapi lisan tetap dengan lantang mengucapkan “Allahu Akbar! atau Ahadun Ahad!

Bagaimana Abdullah Ibn Suhayl menahan rindu dan marah kepada Ayahnya disaat perjanjian Hudaibiyah terjadi. Pergolakan emosi yang sangat manusiawi, yang bikin gw terus berpikir setiap nonton episode dari serial ini. They were all, eventually just a human being.

Dan gw bisa melihat bagaimana Iman menggerakkan dan meneguhkan hati para Sahabat.

Bagaimana seorang Bilal RA yang lemah menjadi kuat karena Iman. Bagaimana seorang Walid Ibn Walid atau Abu Jandal yang seperti orang linglung menjadi kuat fisik dan memiliki keinginan sekuat baja karena iman.

Serial ini mengajarkan itu, mengajarkan kekuatan iman. Menunjukkan kekuatan ukhuwah dan memberikan kehangatan dihati dengan merindukan sosok-sosok yang ada didalamnya.

Dan yang lebih menyenangkan lagi, skrip didalam serial ini juga melalui proses panjang dengan berbagai ulama yang menjadi “editor”nya. Di serial ini banyak sekali hadist dan potongan ayat-ayat Al Quran hadir untuk memperdalam ilmu dan iman kita.

Jadi sarana hiburan dan belajar disatu tempat. Ya Allah semoga Engkau ridho.

MasyaaAllah…semoga ini bukan sesuatu yang bathil, tapi serial ini amat sangat bagus terlepas dari semua perdebatan yang ada. This is EPIC!

Apalagi untuk gw yang sangat visual gini. Serial ini seperti air untuk melepas dahaga. Wajib ditonton untuk semua kalangan; biar paham, biar kenal sejarah.

Ada jagoan dalam realita yang tidak terekspos dibanyak media. Bahkan gw yakin banyak umat Muslim pun tidak mengenal sosok mereka.

Serial ini mampu memberi sedikit pelajaran sejarah Islam dengan cara dan alur kisah yang apik. 

Tahu ngga siapa lagi sosok yang menurut gw bagus banget pemerannya, dan karakter beliau begitu menggelitik sanubari: Abu Sufyan RA. 

Emosinya dapet, penggambaran karaktek dapet, apalagi kisahnya beliau yang selama ini simpang siur. 

Duh…nonton deh!

Wassalam.