Cerita Jajan (Halal) Rantang Mini di Kyoto

Waktu di Tokyo lalu sebenernya jajannya hampir puas tapi belum sempurna karena gak sempet nyobain Coco Ichibanya Shinjuku (Nasi Kari Jepang-Halal). Selebihnya seneng banget karena akhirnya setelah sekian lama bisa merasakan Kobe Beef Halal di Sumiyaki. Harganya hampir 2jt per porsi tapi rasanya maaaaaaan…..gilak lumernya! Terlalu enak, bahkan di grilled polos tanpa saus atau garam aja enak banget. Itu makanan termahal yang pernah gw makan dan gak menyesal. I wish I had more money to enjoy that piece of tender meat.

Nah, perjalanan gw lanjut dari Tokyo ke Kyoto. Naik Shinkansen Nozomi N700 sekitar 2 jam lebih dan cuaca saat itu drop banget, dari Tokyo yang panas ke Kyoto yang so chill. Padahal udah mau di Minggu akhir bulan April.

Di liburan kali ini gw memilih untuk tinggal di Arashiyama, alasannya sederhana: Ibu Mertua gw suka dengan alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari pusat kota Kyoto dan Alhamdullilah, akses kesana pun mudah banget. Setelah dijalani akhirnya gw berpikir bahwa itu adalah keputusan yang terbaik.

Arashiyama benar-benar menjadi tempat relaksasi dan ber-tafakur alam. Dikelilingin gunung dan sungai, juga tidak ada bangunan-bangunan tinggi bikin tinggal disana nyaman banget. Memanjakan mata kita dan suara gemericik airnya itu loh…MasyaAllah.

Yang paling bikin seneng lagi adalah disana ada Halal Certified Japanese Restaurant: YOSHIYA yang menyajikan makanan bukan cuma enak dilidah tapi sedap dipandang mata. Bahkan rasa sesal karena gak sempat nyicip Coco Ichibanya jadi hilang karena disana nyicipin Nasi Kari Jepang yang ueeenak.

Terus di Arashiyama ini lumayan banyak opsi untuk makanan Halal, setidaknya aman untuk Muslim. Mungkin karena banyaknya turis Muslim yang datang ke tempat ini. Nah, foto snack diatas ini adalah gorengan ala Jepang. Rasanya enaaaak dan lembut, ada rasa manisnya yang konon dari Seafood. Walaupun ada logo Halal-nya, gw tetep tanya apakah ini benar-benar aman. Setelah ngobrol dan nunjukin “lembaran sakti” gw akhirnya yakin, InsyaaAllah ini aman.

Jadi selama liburan di Jepang gw megang 2 lembar kertas berisikan tulisan dalam bahasa Jepang untuk ditunjukkan setiap ingin pesan makanan dan minuman.

Salah satu yang gw print dan bawa selama liburan di Jepang
Ini yang kedua

Sangking bagusnya sampai resepsionis hotel minta fotocopy, karena ini memudahkan mereka juga untuk berkomunikasi dengan tamu-tamu hotel. Ini bukan hanya cocok untuk yang Muslim, tapi mereka yang vegan atau vegetarian juga bisa loh.

Rasanya di Kyoto ini gw lebih banyak jajan dan makan diluar. Selain makan di Arashiyama, tentu gw dengan puas jajan di pusat kota Kyoto donk. Alhamdullilah akses yang mudah, bikin gw mudah bolak balik kesana.

Yang paling dinanti-nanti adalah mampir ke Ramen Naritaya. Inget banget dulu, 3 tahun lalu pas kesini, antriannya SubhanAllah, mana dingin, bawa anak kecil pula. Tapi demi semangkuk Ramen Halal jadi rela nunggu. Kenapa sampai harus mengantri? Karena tempatnya kecil banget, kayak warteg. Paling menampung 15-20 orang aja.

Nah kejutannya adalah mereka buka restaurant kedua, restaurant yakiniku. Tentu gw senang donk, jadi makanan Halalnya lebih banyak dan variatif. Wah untuk yang ini mesti reservasi (most of the time), karena rame banget. Jadi kalau datang siang, biasanya dapet sore. Jadi akan lebih efektif kalau kamu telpon untuk reservasi dulu atau pas udah nyampe di daerah Gion, langsung kesini dulu untuk isi daftar reservasi. Mereka cuma punya beberapa meja aja. Entah sekarang, mungkin udah lebih besar 🙂

Diperjalanan ini, gw pengen banget nyoba sebanyak mungkin Japanese Pancake dan Alhamdullilah pas di Kyoto bisa nyobain Pancake enak dan terkenal di antara orang lokal tapi ngga untuk turis hehehe.

Lokasinya dekat Museum Kereta Api Kyoto (Kyoto Railway Museum), tempatnya kecil, nyaman dan cantik.

Tujuan selanjutnya tentu mencoba Matcha dengan berbagai macam olahan. Alhamdullilah ini juga terpenuhi selama di Kyoto. Apalagi Kyoto memang terkenal dengan Uji Matcha-nya. Gw nyobain juga Matcha Roll Cake, Matcha Ice Cream, Matcha Mochi dan entah apalagi I lost count hehehe.

Nah, ketika 2 lembar kertas sakti gw itu ngga cukup menolong, gunakan Google Translate! Ini adalah alat yang selalu gw gunakan untuk men-scan tulisan di menu atau sekedar untuk menanyakan metode masak, bahan baku masakan dll.

Oh iya, jika makan diluar yang non Halal restaurant. Selalu usahakan bertanya. Kayak misalkan sup, bahan baku kaldunya apa? Kalau kue, tanya emulsifernya apa, ada alkoholnya atau ngga, pakai pewarna atau ngga? Whipped cream-nya segar atau dikocok pakai gelatine?

Pokoknya jangan terkecoh dan terlena dengan logo-logo Halal (kecuali yang sudah tersertifikasi) atau dengan label Vegetarian friendly karena kadang Vegan atau Vegetarian masih minum/pakai alkohol. Maka dari itu selalu diusahakan untuk bertanya. Andaikan pun silap, ngga sengaja kena sesuatu yang Haram karena keterbatasan bahasa dan ilmu, setidaknya kita sudah berusaha. Dan Allah mencintai orang-orang yang bertakwa lagi berusaha.

Wallahualam.

Published by

Mademoiselle Na'

A mother of two boys who loves to travel and to cook. Wishing to complete her Islamic Trail journey anytime soon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s