Omar The Series; My View.

Omar The Series.
Source: Google Image

Omar Al Farouk….

Sudah lebih dari 7 hari gw menonton serial Omar, serial tentang salah seorang Sahabat yang sukses bikin gw terisak-isak menyaksikannya. 

Tepat di episode ke 5, tangis gw pecah menyaksikan Bilal RA habis dicambuk tanpa ampun. Sedikit pun tidak mengeluh, Bilal dengan lantang mampu mengucapkan “Ahadun!” 

(He is the One).

Serial ini, walau banyak ditentang umat Muslim lainnya karena berani menampilkan sosok para Sahabat, untuk gw ini semacam quick fix iman. 

Penggambaran para sahabat lebih terasa realistis ketimbang fantasi. Ini yang bikin nantinya banyak penonton banjir air mata. 

Ini yang sangat gw tunggu-tunggu. Serial Islami berkualitas Hollywood dengan pemilihan aktor , desain kostum dan setting lokasi papan atas. 

Setelah hampir 18 episode gw saksikan dengan seksama, gw bisa menyimpulkan bahwa mereka yang bermain disana sudah pada tempatnya. 

Mungkin ada beberapa yang sedikit terlewat, salah satunya seperti Umar RA yang harusnya berbadan kekar, tinggi menjulang dan berkepala plontos. Atau pula karakter Hamzah RA yang sedikit kejauhan dari deskripsinya.

Tapi ini juga bukan negatif, malah gw seneng karena pihak produser tidak berusaha 100% untuk mempersonifikasikan para Sahabat dan kaum Musyrikin di kisah tersebut. 

Karena pada dasarnya bukan fisik yang harus diutamakan, tetapi kisah dan pesan yang ingin disampaikan nantinya….dan itu ngena banget. 

Setiap sahabat yang dimainkan mampu menjalankan dan memotretkan karakter yang diperankannya. Tentu masih jauh dari kenyataan, bahkan kadang melenceng dari yang gw pikirkan (berdasarkan baca/denger Sirah), tapi essensinya dapet, setidaknya untuk penonton awam macem gw ini.

Hanya satu aktor yang paling menonjol wajahnya sehingga ketika dia muncul, tanpa harus menerka-nerka siapa dia, lisan gw langsung berujar “‘Ali?”. 

Dan ternyata benar. ‘Ali Ibn Abi Thalib.

Pemeran ‘Ali wajahnya mirip banget dengan ‘Ali yang digadang-gadangkan oleh pengikut Syiah. Raut wajahnya, janggutnya, bahkan matanya begitu identik. 

Selebihnya, sosok yang menurut gw penggambarannya bagus diserial adalah pemeran Abdullah Ibn Massoud dan Abu Bakr As Siddiq. 

Yang jadi Abu Bakr RA ini adalah aktor langganan Hollywood loh, jangan main-main hehehe. Beliau yang jadi Salahuddin Al Ayubbi di Kingdom of Heaven, dan salah seorang PM Fir’aun di film Exodus

Tentu ada harapan dalam hati bahwa serial ini bisa memfokuskan dibeberapa tokoh, khususnya tokoh-tokoh yang nantinya berperan besar membantu Umar RA di periode kekhalifahan beliau. 

Contohnya: gw berharap sosok Khalid ibn Walid lebih diperdetail proses masuk Islamnya. Bayangin beliau ketika dipukulin Abu Sufyan yang marah ketika mendengar niat Khalid RA untuk berIslam. Untuk sebuah serial TV, emosi karakter-karakter ini bisa memperkaya alur cerita, juga bisa bikin perasaan penonton haru. 

Betul kata sahabat gw, serial ini salah satu iman booster. Setidaknya setelah episode 5 keatas gw gak berhenti terharu, apalagi ketika Umar RA mencium kening Abu Bakr RA sebagai tanda hormat dan sayang, emosinya dapet banget…ikutan merindiiiiiiing dibuatnya. Nonton serial ini juga bikin gw gak berhenti bersyukur dan terus merindu sosok yang dicintai kaum muslimin. Kebayang dengan segala daya dan upaya untuk menegakkan agama Allah diatas muka bumi ini. Pengorbanannya gila-gilaan, bikin lisan gak berhenti “pantas dia masuk Surga atau rasain lu Abu Jahl, emang tempat lu di kerak Jahanam.”

Di serial ini, walau tanpa perlu adanya aktor, suara, maupun sekedar cahaya untuk menandakan adanya beliau SAW, kisah diserial ini udah cukup banget bikin mata basah akibat rindu dan rasa sayang yang menggebu. Apalagi ketika tiap mata Sahabat menatap kamera sambil bilang “Ya Rasulullah….”.

Nonton serial ini bakal bikin gw, dan mudah-mudahan kita semua mudah untuk bermuhasabah. Coba dihayati apa yang beliau SAW harus jalanin….pait man!

Dihujat,

Diboikot,

Dibikin kelaparan satu Bani,

Terusir dari kampung halaman,

Harus berperang dengan saudara sendiri,

Bahkan kehilangan banyak orang yang beliau SAW cintai untuk agama ini.

Apa yang beliau lewati untuk menegakkan agama ini begitu mencabik hati. Tanpa mengeluh beliau melanjutkan tugasnya dan menyampaikan risalah.

Dan gw juga membayangkan gimana hati para sahabat yang juga harus melewati ini.

Seperti Abu Hudaifah yang mesti melihat Ayah, Paman dan Saudara laki-lakinya mati terbunuh didepan matanya. Dengan hati sekuat baja, mata basah berlumuran air mata, tapi lisan tetap dengan lantang mengucapkan “Allahu Akbar! atau Ahadun Ahad!

Bagaimana Abdullah Ibn Suhayl menahan rindu dan marah kepada Ayahnya disaat perjanjian Hudaibiyah terjadi. Pergolakan emosi yang sangat manusiawi, yang bikin gw terus berpikir setiap nonton episode dari serial ini. They were all, eventually just a human being.

Dan gw bisa melihat bagaimana Iman menggerakkan dan meneguhkan hati para Sahabat.

Bagaimana seorang Bilal RA yang lemah menjadi kuat karena Iman. Bagaimana seorang Walid Ibn Walid atau Abu Jandal yang seperti orang linglung menjadi kuat fisik dan memiliki keinginan sekuat baja karena iman.

Serial ini mengajarkan itu, mengajarkan kekuatan iman. Menunjukkan kekuatan ukhuwah dan memberikan kehangatan dihati dengan merindukan sosok-sosok yang ada didalamnya.

Dan yang lebih menyenangkan lagi, skrip didalam serial ini juga melalui proses panjang dengan berbagai ulama yang menjadi “editor”nya. Di serial ini banyak sekali hadist dan potongan ayat-ayat Al Quran hadir untuk memperdalam ilmu dan iman kita.

Jadi sarana hiburan dan belajar disatu tempat. Ya Allah semoga Engkau ridho.

MasyaaAllah…semoga ini bukan sesuatu yang bathil, tapi serial ini amat sangat bagus terlepas dari semua perdebatan yang ada. This is EPIC!

Apalagi untuk gw yang sangat visual gini. Serial ini seperti air untuk melepas dahaga. Wajib ditonton untuk semua kalangan; biar paham, biar kenal sejarah.

Ada jagoan dalam realita yang tidak terekspos dibanyak media. Bahkan gw yakin banyak umat Muslim pun tidak mengenal sosok mereka.

Serial ini mampu memberi sedikit pelajaran sejarah Islam dengan cara dan alur kisah yang apik. 

Tahu ngga siapa lagi sosok yang menurut gw bagus banget pemerannya, dan karakter beliau begitu menggelitik sanubari: Abu Sufyan RA. 

Emosinya dapet, penggambaran karaktek dapet, apalagi kisahnya beliau yang selama ini simpang siur. 

Duh…nonton deh!

Wassalam. 

Cerita Jajan (Halal) Rantang Mini di Osaka

Di Japan trip gw pertama kali bulan Maret 2016, gw memulai perjalanan di kota ini, kota Osaka. Kota bisnis yang tadinya gw pikir biasa aja. Waktu itu kami tiba malam hari di Apartemen sewaan, 1 malam hilang dan hari berikutnya gw habiskan untuk ke Minoo Park (highly recommended!!!) dan ke Osaka Castle. Lalu ketika pagi tiba, saat kita ingin menjelajah pusat kota, sang pemilik apartemen menawarkan untuk bawa semua bagasi kita dengan mobilnya ke Kyoto! Ya gw gak nolak lah…tiba-tiba langsung kepikiran ketempat lain dan mengorbankan Osaka.

Saat itu gw lebih memilih untuk ke Nara, ketimbang pusat kota Osaka. Nah, makin sering liat food blogger jalan dan jajan kesana, ada rasa iiihhh nyesel juga wkwkwk. Alhamdullilah, di lawatan gw yang kedua ini akhirnya gw fokus di Osaka aja dan milih menginap di Namba; pusat kulinernya Osaka!

Gw nginep di Holiday Inn Namba. Harga relatif untuk ukuran sebuah hotel kenamaan. Dibanding Tokyo dan Kyoto, Osaka termasuk yang paling murah. Cuma bukan itu yang jadi poin utamanya, tapi LOKASI!!

Jaraknya dengan jantung kuliner lokal dan pusat perbelanjaan yang cuma selemparan batu bikin hati berbunga-bunga. Nikmat banget! Kalau malam pun rasanya makin semangat karena semua lampu billboard menyala, orang-orang nongkrong sambil makan disekitaran Tombori river walk. Kata orang Belanda nih “Gezellig!”

Pilihan gw gak salah, hari pertama langsung nyari A Happy Pancake (LAGI!) karena gw pengen yang lain nyobain. Secara orang Belanda kan pancake mania nih, jadi mereka harus nyobain variasi pancake yang berbeda dengan yang biasa mereka makan. Apalagi tempat makannya cantik banget dan dapurnya terbuka, jadi bikin dining experience kita jadi hangat.

Japanese Souffle Pancake from A Happy Pancake in Milk Tea Sauce

Dan apa yang paling terkenal dari Osaka selain giant Glico man sign?Okonomiyaki! Telur dadar isi or people says it’s a Japanese savory pancake yang diisi seafood dan sayuran, pakai saus okonomiyaki dan Japanese mayonnaise. Diatasnya ditaburi katsuobushi; semacam abon atau irisan tipis dari ikan (bonito) gitu.

Make sure to dine in at Chibo Diversity Muslim Friendly Restaurant. Rekomendasi bintang 5 mah ini. Apalagi kalau mau coba makanan khas Osaka, Okonomiyaki, udah paling bener disini deh. Yang lucunya lagi, typical Indonesian banget kali ya, disini disediain Saos Sambel ABC juga hehehe.

Lokasinya masih di satu jalan dengan Little Osaka tadi. Jarak 500m lah kira-kira. Dan Namba itu truly the heart of Osaka dan wajib banget dikunjungi buat kamu semua yang akan atau sedang berada di Osaka.

Nah selain jajan ini, setelah sekian lama makan makanan Jepang terus. Perut dan lidah gak bisa bohong donk. Tetep nyari makanan Indonesia hahahaha. Alhamdullilah ada restaurant Indonesia dekat Namba dan menjual makanan pengobat rindu tentunya.

Cafe Bintang namanya. Nyarinya mesti pake google maps atau dijamin nyasar. Lokasinya ada didalam gedung gitu, jadi harus teliti dalam melihat sign board nama-nama toko atau restaurant. Restaurantnya halal tapi masih menjual alkohol. Ini standard sih di negara-negara minoritas Muslim. Kadang bingung juga, kayak orang lokal Jepang aja ada yang mau bikin fully halal menu, kenapa yang punya orang Indonesia malah ngga bikin ya. Padahal pasarnya kan udah ada dan besar pula.

Cus ketempat berikutnya. Mumpung lagi di Osaka dan nginep dikawasan Namba, gw tiap hari jalan disekitaran situ aja, karena areanya luas banget jadi gak bisa disambangi satu-satu dalam 1-2 hari. Alhamdullilah waktu mau nyari oleh-oleh, iseng masuk ke sebuah toko. Eeeh pas dijelajah satu-satu, tiba-tiba nemu Halal Section!

Alhamdullilah senangnya gak ketulungan. Nama tokonya Little Osaka, Omiyage Market. Google yaa. Ini lokasinya di Namba juga kok, deket billboard Meiji yang besar dan mencolok hehe. Nah ada satu jajanan yang enak banget, walau bukan di Halal Section tadi, tapi InsyaaAllah bahan bakunya aman, Kyoto Sweets namanya. Pudding matcha yang lembut dan rasa matcha-nya bombastis!!! Tapi jangan ambil yang rasa lain, karena kandungan bahan bakunya yang kurang aman. Lupa persisnya apa, makanya hanya ambil yang matcha aja.

Intinya, kalau mau jajan dan makan enak, Osaka udah kota yang paling oke menurut gw. Tokyo juga oke, oke banget malah, tapi harganya gak kuku! Nah yang paling bikin gw seneng lagi adalah harga SK II di Osaka lebih murah dibanding Tokyo atau Kyoto, don’t ask me why, tapi gw nyesek banget waktu lihat harga kosmetik papan atas itu di Osaka. Soalnya udah keburu beli di Kyoto duluan huhuhuhu.

Selamat jajan!

Wassalam,

Na’